Bu dokter kei

d9bf4a903563271cc52eb2c19456e5b2

dr. Nidia Limarga: “Jangan Fokus ke Daerah-Daerah Besar Saja”

19 September 2016

Oleh: Sylvie Tanaga

Keindahan lekuk aneka bangunan dan desainnya yang artistik membuat Nidia kecil punya satu cita-cita: jadi arsitek. Apa daya, anak kedua dari tiga bersaudara ini harus berdamai dengan kenyataan lain. Ia tidak diterima masuk jurusan arsitek, tetapi diterima masuk jurusan kedokteran. Lama kelamaan, ia mengaku menikmati saja jalan hidupnya menjadi seorang dokter.

Pengalaman melakukan pelayanan medis di sudut-sudut wilayah terpencil bersama doctorSHARE sejak 2014 membuka matanya terhadap kondisi mereka yang tersisih. Ia pun berbulat tekad mengabdi sebagai dokter PTT di Kepulauan Kei Besar, Maluku Tenggara. Bukan perkara mudah. Daya tahannya menghadapi tekanan sangat diuji. Kepasrahan pada Yang Kuasa dan kerinduan melihat masyarakat Kei Besar yang lebih baik menguatkan hatinya untuk terus berjuang.

Nama Lengkap: Nidia Limarga
Tempat, tanggal lahir: Bekasi, 20 Januari 1989

Riwayat Pendidikan
SD Maria Fransisca Bekasi (1995 – 2000)
SMP Pax Ecclesia Bekasi (2000 – 2003)
SMA Masdurini Bekasi (2003 – 2006)
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara (2006-2015)

Pengalaman
Relawan doctorSHARE (2014 – saat ini)
Koordinator Pelayanan Medis doctorSHARE untuk Kei Besar (2015-2016)
Dokter PTT Daerah di Kei Besar Puskesmas Elat (Juli 2015 – Juli 2016)

————————————————————————————————————————————————-

Cita-cita sejak kecil?
Jadi arsitek sih, hehehe… Tapi akhirnya jadi dokter. Waktu mau masuk Untar (Universitas Tarumanagara) ada dua pilihan: arsitek dan dokter. Yang keterima dokter. Dari kecil pengin jadi arsitek karena suka gambar-gambar bagus, terus lihat desain-desainnya. Ternyata mungkin memang jalannya jadi dokter. Sekarang disuruh gambar lagi juga udah nggak bisa, hahahahaha…

Mengapa pilihan berikutnya menjadi dokter? Bukan jurusan lain seperti akuntansi misalnya?
Nggak kepengin aja. Tadinya orang tua memang suruh masuk akuntansi atau kedokteran. Mereka memang pengin anaknya jadi dua hal itu. Cuma aku nggak pengin akuntansi. Ngitung-ngitung banget. Jadi masukin berkas kuliahnya dua jenis, impian aku dan impian papa-mama. Eh yang keterima yang impian papa-mama. Ya sudah, jalani aja.

Lalu bagaimana proses ketika berkuliah di Fakultas Kedokteran? Enjoy?
Aku bukan tipe yang kepenginnya A terus A aja. Kalau memang yang terbaik itu, ya aku jalanin aja. Memang lulus kedokterannya lama, hahahaha… Tapi enjoy sih. Lama-lama jadi seneng juga.

Bayangan soal masa depan saat menjalani kuliah kedokteran?
Sama sekali nggak ada bayangan dan aku bukan tipe orang yang planning. Jadi apa yang ada di depan mata, itu yang aku coba jalanin.

Pengalaman awal bersentuhan dengan masyarakat?
Waktu kuliah di Fakultas Kedokteran memang banyak kegiatan bakti sosial. Cuma dulu bingung mau pilih yang mana. Sejak ikut doctorSHARE, aku ngerasa cocok sama orang-orangnya. Aku juga dapet banyak pengalaman di bidang medis maupun non medisnya. Jadinya lebih banyak terlibat di doctorSHARE. Kegiatan bakti sosial lainnya jadi lewat.

Cerita awal bergabung dengan doctorSHARE?
Waktu itu tahun 2014. Aku udah selesai co-ass dan nunggu ujian negara (UKDI/Uji Kompetensi Dokter Indonesia)-nya lama. Mau kerja juga illegal karena belum ada STR (Surat Tanda Registrasi). Jadi ya udah, join doctorSHARE. Pertama kali ikut pelayanan medis doctorSHARE ke Malili, Sulawesi Selatan. Di situ aku diminta jadi koordinator bedah katarak. Selanjutnya, aku juga pernah jadi koordinator bedah mayor, bedah minor, dan pengobatan umum.

Bidang pelayanan medis apa yang paling disukai?
Bagian yang terjun langsung ke lapangan, tindakannya. Sebagai coordinator sebenarnya lebih banyak bertugas di administrasi seperti mengurus kelengkapan-kelengkapan berkas. Tapi kesempatan untuk terjun ke tindakan langsung jadi terbatas karena tanggung jawab pekerjaan utama harus selesai dulu. Kalau sudah selesai baru boleh “main” (tindakan).

Mengapa akhirnya mendaftar sebagai dokter PTT Daerah di Pulau Kei, Maluku Tenggara?
Tadinya bingung mau PTT Pusat atau join doctorSHARE. Ternyata dari doctorSHARE ada jalur PTT bekerjasama dengan Pemda yang status PTT-nya diakui kalau mau ambil PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis). Tidak masalah sambil membantu doctorSHARE karena kehidupan PTT kan pergi-pulang Puskesmas saja. Sambil PTT, sambil mengembangkan Panti Rawat Gizi doctorSHARE.

Ada pergulatan pribadi sebelum memutuskan daftar PTT?
Dari aku sendiri enggak karena memang mau PTT. Cuma dari orang tua yang sempat keberatan. Ada dua pilihan, ke Jerman ambil spesialis atau spesialis di Indonesia. Papa bilang kalau ke Jerman “anak gue pasti nggak pulang deh.” Tapi aku bilang ke papa kalau PTT-nya di Kei. Paling hanya itu pertentangannya. Kalau dari batin sendiri sih enggak ada.

Gambaran perjalanan dari Jakarta ke Kei Besar?
Penerbangan dari Jakarta ke Kei, biasanya melalui Ambon. Itu pun kadang harus transit dulu ke Makassar. Dari Jakarta ke Makassar tiga jam, dari Makassar ke Ambon satu setengah jam. Lalu dari Ambon pakai pesawat lagi ke Kei Kecil selama satu jam.

Dari Kei Kecil ke Kei Besar biasanya pakai kapal cepat. Tapi secepat-cepatnya, miminal perlu waktu satu setengah jam dan biasanya berombak. Biaya kapal cepatnya Rp 35.000 untuk tiket biasa dan Rp 50.000 untuk tiket yang “eksklusif”, walaupun sebenarnya sama saja. Jadi kalau ada rujukan dari Kei Besar ke RSU di Kei Kecil, masyarakat paling tidak harus keluar uang minimal Rp 70.000 per orang.

Mata pencaharian masyarakat Kei Besar pada umumnya?
Bertani dan nelayan. Itu sebabnya biaya ke Kei Kecil berat sekali bagi mereka. Makanya banyak masyarakat yang menolak untuk dirujuk.

Penempatannya di Puskesmas Elat, Kei Besar….
Ya. Puskesmas Elat itu seperti pusat rujukan. Kei Besar merupakan satu kepulauan yang terdiri dari beberapa puskesmas. Puskesmas Elat itu pusat rujukan dari puskesmas-puskesmas lainnya. Sempat ketētēran karena pasiennya sangat banyak dan aku satu-satunya dokter. Yang lain sudah selesai masa baktinya. Itu sebabnya Panti Rawat Gizi doctorSHARE sempat closed, tidak terpegang. Aku bertanggung jawab atas 19 wilayah kerja Puskesmas. Tapi karena transportasinya susah, yang aktif datang paling sembilan atau sepuluh wilayah kerja. Nggak semuanya.

Tantangan-tantangan yang kamu hadapi di lapangan?
Banyak. Yang paling berat adalah adaptasi dengan perawat dan petugas Dinas Kesehatan. Masyarakat sih sangat welcome, nggak nēko-nēko. Tantangan terbesar muncul karena minimnya penyediaan alat, infrastruktur, dan obat-obatan.

Pernah muncul pasien tak tertolong karena ketiadaan obat dan alat?
Banyak.

Sampai meninggal?
Ya.

Contohnya?
Banyak. Itu sebabnya sempat titip obat-obatan dari doctorSHARE. Obat-obatan itu sama sekali tidak digunakan untuk praktik pribadi. Aku nggak pernah ambil keuntungan atau pungut biaya. Permasalahannya, kondisi di situ memang parah banget. Nggak ada apa-apa sama sekali.

Ceritakan perjalanan mobile clinic dengan motor…
Sebelumnya aku udah pernah belajar motor tapi motor yang dipakai di sini beda. Medannya juga beda. Benar-benar hutan dengan jurang di sebelah kanan atau sebelah kiri. Kadang masih bertemu hewan di depan mata. Malam hari, warna ular dan jalan sama saja. Orang-orang di situ bilang, “Dok, hati-hati sama ular. Ularnya jelmaan….” Jadi masih banyak kepercayaan seperti itu.

Selain masalah minimnya infrastruktur, apa isu utama masalah kesehatan di Kei Besar?
Kalau dari sudut pandang aku adalah transportasinya. Jauh dan susah.

Kejadian apa yang paling berkesan selama bertugas di sana?
Banyak sebenarnya, hehehehe…  Misalnya waktu itu ada satu anak dengan gizi kurang, usianya kira-kira enam bulan. Dia berasal dari daerah selatan Kei Besar. Keluarganya memang tidak mampu. Dia datang dengan keluhan demam dan mencret dan baru sampai ke Puskesmas seminggu kemudian karena memang jaraknya jauh. Ketika datang, si anak sudah dehidrasi berat.

Dari anamnesa, anak ini memang nggak bisa makan dan minum karena nggak ada duit. Kalau ada pun belinya susu kental manis yang tidak ada gizinya, manis doang. Sehari-hari hanya minum air putih sedangkan air di sana tinggi kapurnya. Mau kasih infus juga nggak bisa karena semua pembuluh darahnya sudah kolaps. Di kepala nggak dapet, di tulang juga nggak dapet.

Diberi minum oralit juga mencret terus. Akhirnya aku ijin Jakarta pinjam susu dari Panti Rawat Gizi. Setelah diijinkan, aku buka satu bungkus. Orang tuanya bilang, “ya ampun, Dok… Selama ini dia nggak pernah minum susu karena nggak ada duit.” Setengah bungkus minum, ada perbaikan. Langsung aku rujuk ke rumah sakit di Kei Kecil untuk pasang infus. Orang tuanya sampai Novena di depan aku karena mereka nggak pernah beli susu sama sekali. Buat mereka, itu barang mewah.

Kasus lainnya?
Ada yang menghadapi kematian tapi ternyata tertolong sebelum aku rujuk ke Kei Kecil. Dari Kei Besar ke Kei Kecil kan harus pakai kapal yang sehari cuma ada dua jadwal, itu pun kadang nggak jalan. Kita mau rujuk pasien juga susah. Jadi mau nggak mau dengan alat dan prasarana yang minim, muter otak, dan pasien tertolong.

Sekali waktu pernah terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) demam berdarah. Waktu itu, Dinas Kesehatan dan Bupati telepon, “ini kenapa banyak banget yang dirujuk? Memang dokternya nggak bisa ya?” Aku jawab, “itu yang dirujuk baru sebagian, Pak. Rawat inap sudah full.” Akhirnya mereka kirim pembasmi demam berdarah. Ya senangnya di situ, bisa menolong walau dengan alat seadanya.

Penyakit yang paling dominan muncul di Kei Besar?
Di kalangan orang tua, yang banyak itu asam urat dan darah tinggi. Kalau anak-anak, dehidrasi karena kurang perhatian orang tua. Mungkin karena pendidikan mereka juga masih minim. Batuk, pilek, mencret lama dibiarkan sampai parah. Kalau sudah dehidrasi dan kejang baru berobat.

Bagaimana dengan kasus gizi buruk?
Dari pengamatan aku, hampir setengah pasien yang datang ke Puskesmas itu gizi kurang atau gizi buruk. Masalahnya, masyarakat nggak tahu kalau anaknya gizi buruk/gizi kurang.

Apa masalah utama penyebab banyaknya penderita gizi buruk/gizi kurang di Kei Besar?
Mungkin pengetahuan orang tua yang masih minim. Kalau ada uang, tidak mereka belikan untuk sesuatu yang benar-benar bergizi tapi yang enggak-enggak. Yang aku lihat, orang tua memberi makan anaknya Indomie, Chiki, permen, dan coklat. Kalau aku beritahu waktu penyuluhan, orang tuanya malah menjawab, “ya gimana lagi dong, Dok. Kita kan sayang sama anak.”

Suami juga kurang mendukung istri membangun kehidupan yang lebih baik. Mereka sibuk mabuk-mabukkan. Padahal uangnya bisa dipakai beli beras atau susu Rp 5.000. Mau berkoar-koar pun sepertinya masih sulit. Kami sudah mencoba juga ngomong ke masyarakat secara individual namun masih sulit, antara nggak mau terima atau memilih bersikap masa bodoh, “toh anak gue juga masih main-main.” Itu sudut pandang aku.

Potensi Sumber Daya Alam Kei Besar?
Tanahnya bener-bener subur, tapi Sumber Daya Manusia-nya belum menunjang sehingga masih terbengkalai. Seharusnya bisa dibuat lebih bagus. Tanahnya bisa ditanami dengan berbagai jenis tanaman dan tanaman obat karena sebetulnya alamnya sangat mendukung.

Bagaimana doctorSHARE bisa berperan dalam memberdayakan masyarakat Kei?
doctorSHARE sangat bisa mengembangkan potensi Kei walau memang perlu kesabaran saat bekerjasama dengan SDM lokal. Jika seluruh SDM dikerahkan dari pihak doctorSHARE, program memang bisa cepat maju. Tapi mau sampai kapan masyarakat Kei terus disuapi? Itu tanah mereka. Mereka juga saling bersaudara.

Sedapat mungkin insiatif bekerja harus datang dari masyarakatnya sendiri. Jangan sampai kalau doctorSHARE tidak hadir di situ maka programnya tidak jalan. Percuma juga. Kita kan berpikir untuk jangka panjang. Meski langkah awalnya dari doctorSHARE, terutama untuk edukasi, kita kan ingin selanjutnya mereka juga bisa berjalan sendiri.

Secara pribadi, bagaimana menjalani hidup di sana dengan segala keterbatasan yang ada?
Nggak masalah. Di sana listrik memang kadang nyala, kadang mati. Kalaupun nyala hanya sampai jam 12 siang, nanti nyala lagi jam 7-8 malam. Air yang sulit. Waktu itu, aku datang sekitar bulan Agustus saat sedang kemarau. November sampai Januari-Februari juga kemarau. Air benar-benar kering. Mau mandi sampai cari-cari air. Lucu juga sih, hehehehe…  Kita terpaksa numpang mandi. Mau nggak mau juga harus beli air minum walaupun harganya mahal.

Pelajaran hidup yang dipetik dari pengalaman bersama doctorSHARE dan selama PTT?
Lebih bersyukur dan lebih dekat dengan yang Di Atas. Ketika PTT, tidak ada siapa-siapa yang bisa diandalkan. Obat-obatan tidak ada sedangkan kita harus kejar-kejaran dengan nyawa. Itu nyawa sudah tinggal sedikit lagi sehingga mau tidak mau hanya bisa minta tolong sama yang Di Atas.

Pernah mengalami sendiri kejadian mengancam nyawa?
Banyak. Misalnya kasus mabuk dan perselingkuhan yang seolah sudah sangat mengakar di Kei. Pernah ada yang mabuk, lalu selingkuhannya datang dan ketahuan sampai potong-potongan tangan. Pasien dibawa ke Puskesmas Elat yang ceritanya pusat rujukan tapi alat dan obatnya nggak lengkap sama sekali. Pasien perdarahan hebat sampai shock. Tangannya… ditiup juga mungkin patah.

Waktu itu, aku baru datang dan belum inisiatif melengkapi Puskesmas dengan alat-alat dan obat sendiri. Mau jahit nggak ada kasa. Jarum adanya yang pendek. Jenis benangnya yang menyerap ke dalam daging sedangkan kondisi tangan pasien sudah terbelah-belah yang tentu butuh banyak benang. Kondisi sangat tidak memungkinkan jika SOP ingin dijalankan.

Ketika datang, tangan pasien cuma disumbat kapas. PR banget. Kapas harus dilepas satu-satu sedangkan dia sedang bertanding dengan nyawa. Cairan juga tinggal sisa tiga botol. Yang lain sibuk sana sini tapi nggak ngapa-ngapain, mungkin karena panik.  Ya sudah, seadanya saja.

Jadi aku ikat-ikat pembuluh darah besar dengan benang yang menyerap. Mungkin aku dimaki-maki dokter bedah, tapi mau gimana lagi. Seharusnya memang nggak boleh mengikat pembuluh darah pakai benang menyerap. Tapi perdarahan harus segera dihentikan. Yang penting adalah tindakan penyelamatan pertama.

Beruntung pasien datang jam 12 karena jadwal kapal selanjutnya ke Kei Kecil jam 2. Kapal diminta jangan pergi dulu karena butuh proses untuk penanganan pasien. Mau bikin gips nggak ada. Akhirnya cari kayu, lalu digulung-gulung. Kasa juga nggak ada. ATLS (Advanced Trauma Life Support) dan ACLS (Advanced Cardiovascular Life Support) nggak bisa diterapkan. Pokoknya bener-bener cuma fokus menghentikan perdarahan. Bajunya kita robek. Semuanya baju sudah berdarah.

Sebelum dirujuk, nggak mungkin kita biarkan dia basah berdarah-darah kan? Jangan sampai di tengah jalan kenapa-kenapa, apalagi perjalanannya makan waktu satu setengah jam. Itu juga kalau nggak ada ombak. Kalau ada ombak dua jam. Belum lagi ada golden period untuk pengerjaan. Setelah kejadian ini, doctorSHARE membantu mengirim benang dan kasa.

Saat kejadian pun polisi datang dan bilang, “Dok ini gimana sih segala macam nggak ada???” Aku jawab, “ya jangan ke saya dong, ke Kepala Puskesmasnya. Mau marah silahkan, mau bunuh saya juga silahkan.”

Sampai seperti itu resikonya?
Ya. Suatu malam, Puskesmas juga sempat diancam setelah kasus tabrakan. Mereka marah-marah mau lemparin Puskesmas. Keluarlah aku, dokter cewek, Cina, dan masih muda. Mereka makin marah-marah. “Ini dokternya nggak ngapa-ngapain!” Terus aku bilang, “ya silahkan Bapak mau ngapain. Memang alatnya nggak ada, tapi saya sudah berusaha yang terbaik.” Aku pasrah.

Sempat juga waktu itu sepertinya ada orang yang mencoba masuk ke Rumah Dinas. Biasanya aku tinggal berdua dengan dokter gigi, tapi waktu itu dia lagi tipes dan dirawat di Kei Kecil. Aku sendirian. Di sana kan memang banyak terjadi kasus tapi alat-alat nggak ada. Dokter yang jadi kambing hitam padahal mau ngapa-ngapain juga nggak bisa. Kita sudah berusaha semampunya.

Aku nggak ingat waktu itu habis kasus apa, tapi malam jam satu terdengar bunyi jegrek di pintu. Di sana sepi, suara apapun pasti terdengar. Selama ini pintu belakang memang nggak bisa dikunci karena kuncinya nggak ada, hanya diganjal pakai batu. Itu lemes banget sih. Aku langsung telepon kenalan dengan suara bisik-bisik, “eh, tolong dong ini kayaknya di belakang mau ada yang masuk.”

Dari dalam kamar, aku coba nahan pintu pakai kardus segala macem. Akhirnya orang belakang rumah datang sama pembantunya. Dia bilang nggak ada apa-apa. Motor juga nggak ada. Sampai sekarang nggak tahu itu apa karena batu yang tadinya nutup pintu memang tergeser. Puji Tuhan nggak kenapa-kenapa dan masih balik Jakarta dengan utuh. Itu paling seram. Untung ada signal.

Dengan tingginya resiko yang harus dihadapi, bagaimana perhatian pemerintah, terutama soal kesejahteraan para dokter PTT?
Hanya dapat insentif daerah. Harusnya Rp 5 juta tapi ada potongan, jadi hanya dapat Rp 4,5 juta. Itu pun dirapēl suka-suka. Dari Oktober tahun lalu sampai Januari belum dibayar sampai detik ini. Aku nggak ngerti. Ya udahlah, kan kita datang bukan cari duit tapi untuk pelayanan dan pengalaman. Dapat duititu bonus. Kalau ngotot urusan sama duit nggak bakal selesai-selesai.

Rencana ke depan?
Sekarang sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan spesialis anestesi. Sedang coba masukin berkas. Tadinya mau ambil bedah tapi rasanya perlu waktu lama untuk belajar. Enam tahun.

Pesan untuk rekan-rekan sesama dokter dan pemerintah?
Untuk sesama dokter, jangan takut untuk pelayanan ke daerah-daerah. Kita sudah belajar sekian lama, kenapa nggak langsung diterapin ke daerah? Di sana sama sekali tidak ada dokter. Sampai aku keluar pun belum ada gantinya. Kasihan masyarakatnya. Mereka benar-benar butuh dokter. Nggak bisa hanya andalkan perawat atau bidan. Sebagai manusia, kita pasti pengin dapat yang terbaik. Demikian juga mereka. Jangan takut. Jangan fokus ke daerah-daerah besar saja.

Untuk pemerintah, perhatikan dokter-dokter yang sudah meninggalkan keluarga dan betul-betul niat melayani masyarakat di daerah. Faktanya, sampai di sana ternyata mereka sama sekali tidak dipandang, bahkan sebelah mata pun tidak. Kalau penyebaran dokter ingin lebih merata, perhatikan hal ini. Jika tidak, tak heran jika makin banyak dokter yang tidak berminat. Mereka sudah meninggalkan keluarga, keluarga juga ketar-ketir. Sinyal kadang mati, transportasi juga sulit.

http://www.doctorshare.org/index.php/news/2016/9/19/271/dr-nidia-limarga-jangan-fokus-ke-daerah-daerah-besar-saja.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s